Powered By :

WHAT'S NEW?
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
KASIH TAK SAMPAI
  

http://jokosun.blogspot.co.id/2012_02_01_archive.html

Oleh : Kafabih

Hujan turun lagi dan membasahi semua yang ada di bumi, tak terkecuali susunan genting rumahku juga tak luput oleh sapuannya. Hingga lama-kelamaan kumpulan bulir-bulir air itu mengalir melewati atap-atap dan akhirnya memenuhi talang sampai nantinya jatuh ke bumi. Dari balik jendela kamar ku yang disetiap sudut dindingnya penuh dengan foto tentang mu. Aku sendiri terpaku menatap tetesan air yang jatuh dibalik daun-daun pepohonan sekitar rumah. Hembusan angin yang menerobos dari balik jendela membuat perasaanku menjadi sejuk dan bahagia. Laksana memandang raut wajah manismu dari balik jendela kelas saat kita masih duduk dibangku SMA. Saat-saat yang tak mungkin bisa kulupakan hingga saat ini. Lesung pipi yang nampak saat kau tersenyum menambah aku kian larut dalam lamunan yang tak pernah kualami sebelumnya. Hidungmu yang sedikit pesek tak membuat aura kecantikanmu hilang olehnya, namun itu yang menjadikan ciri khas darimu selain lesung pipi yang kau miliki.
Hingga pada akhirnya lamunanku buyar oleh tetesan air yang menerobos disela-sela genting yang bocor karena hujan yang semakin deras, dan tepat mendarat di pipiku.
“Ah… sial, belum sempat aku menghayal tentang mu lebih jauh, kau sudah menyadarkanku darinya, dasar kau hujan. Kau yang membawa aku akan hanyalan tentangnya, dan kau juga yang menyudahinya.” Gerutuku sambil mengusap pipi yang basah oleh air hujan seraya menghadap pada cermin yang tertempel di sudut tembok kamar.
Sudah cukup lama aku tidak menghayal tentang mu, Gita. Dan kali ini hujan membawaku akan hadirnya dirimu, dan itu cukup membuat rasa kangen ku tumbuh bersemi seperti saat lalu. Saat kita sedang duduk berdua di bawah pohon beringin sambil memandangi air telaga yang tenang. Dan jari-jari lentikmu menari-nari pada senar gitar kesayanganmu, dan menyanyikan lagu kesukaan kita berdua. Serta hembusan angin yang sepoi-sepoi kian membuat romantis. Sudah 7 tahun kita tak bertemu semenjak kita lulus SMA, namun rasa cinta yang tersimpan didalam hati paling dalam masih terjaga dengan baik. Dan seutas gelang pemberianmu masih kupakai dan kujaga hingga saat ini. Namun aku masih berfikir, apakah perasaanmu masih sama denganku ?? Sebuah tanda tanya besar yang menghantui dan menjadi racun akan kematian cinta kita. Aku sendiri sudah lepas kontak cukup lama semenjak kau telah ganti nomor telepon.
Handphoneku yang penuh dengan foto-foto kenangan saat itu, tiba-tiba berdering oleh sebuah pesan masuk. Kuambil lalu kubaca, ternyata temanku Gilang memberiku sebuah nomor telepon milik Gita. Ya, karena memang beberapa hari yang lalu aku sengaja meminta Gilang untuk mencarikan nomornya, dan baru hari ini mendapatkannya. Ah, alangkah bahagianya diriku serasa mendapati bidadari-bidadari syurga yang turun di kamarku. Segera ku telepon nomor itu tanpa pikir panjang.
Dan …..
“Tuuut… tuuut… tuuut…” Teleponku tersambung, namun tidak ada jawaban. Akupun tak patah arang dan kutelepon lagi seraya harap-harap cemas.
“Tuuut… tuuut… tuuut…” Nada yang sama yang muncul, dan akupun tak patah arang untuk kedua kalinya. Hingga akhirnya muncul suara “Silakah tinggalkan pesan setelah nada berikut”
“Gita sayang… apakah masih kau ingat dengan suara ini ? suara yang begitu dekat dengan telingamu. Saat kita dahulu sering melepas rasa rindu lewat telepon genggam dimalam hari, kau sedang asyik berada di dalam kamar, sedang aku berada di atas genting seraya memandangi wajah bulan purnama seindah raut wajah mu. Dan pernah suatu hari aku jatuh dari atas genting. Dan masih banyak lagi kenangan-kenangan yang tak mungkin bisa kulupa Gita,,,, apa kau juga seperti aku? Jawaban kamu aku tunggu Gita, dan sampai pesan suara ini kukirim untukmu, aku masih sayang padamu.”
Jarum jam dinding menunjuk pada angka 16.15 WIB, sudah satu jam belum ada jawaban dari pesan suara yang aku kirim. Suara rintik hujan masih setia menemani penantianku hingga diriku tak sadar terbawa dalam alam mimpi, dan lagi-lagi aku bertemu denganmu duduk berdampingan lengkap dengan gaun putih panjang yang kau kenakan serta jas hitam yang aku kenakan dalam sebuah ruangan yang penuh dekorasi kebahagiaan. Serta tamu-tamu undangan berpose dibalik jepretan kamera. Dan kebagaiaan itu tak berlanjut lama, setelah handphoneku berdering keras di sampingku.
“Hey…. !! Keparat kau, jangan sekali-kali ganggu istri orang, Gita sudah menjadi milik orang lain saat ini, dan kau jangan bermimpi akan hal itu.” Tut… tut… tut… sambungan telepon terputus, handphoneku pun jatuh kelantai hingga terpisah tiga bagian. Bagai tersambar petir disiang bolong. Dan hujanpun semakin deras, seakan ikut menangisi nasibku yang begitu sial.
“Gitaaaaa…… !!! kau telah mengingkari janji suci kita di bawah pohon beringin, dan cintamu tak sekokoh akar beringin yang mencengkram bumi, janjimu palsu bagai buah kedondong yang hanya halus diluar namun menyerabut di dalam. Lidahmu menusuk dari belakang hingga hanya rasa sakit yang kau berikan. Inikah balasan yang selama ini kau berikan kepadaku??!! Sedang aku setia menunggumu, setabah bebatuan kali yang diterjang air banjir. Dan mulai detik ini aku tidak akan bisa lagi menerimamu, meskipun kau menginginkanku lagi”
Hujan mulai reda hingga haripun diakhiri dengan munculnya senja di ufuk barat sebagai penutup hari yang penuh kelabu.
*****
Hari-hariku semakin tak berdaya dan tak punya masa depan yang jelas, hingga aku tak pernah lagi keluar dari kamar terkecuali untuk makan dan ke kamar mandi. Aku jadi seorang yang menarik diri dari lingkungan dan teman-temanku. Hingga pada suatu hari pintu kamar diketuk oleh seorang yang tak kukenal, dan dia bersama Gilang temanku. Dia berparas ayu, sopan dan lemah lembut. Kacamata frame hitam menambah rupanya menjadi nan cantik. Gaya bahasa yang lugas dan penuh motivasi serta penyampaian yang menggugah semangat tumbuh kembali. Seminggu sekali dia selalu datang bersama Gilang sekedar menjenguk dan memberi motivasi. Terkadang dia ajak aku sekedar cari udara segar diluar rumah, atau duduk berdua dibawah pohon beringin pinggir kali. Sebuah buku pemberiannya selalu kubaca menjelang tidur tengah malam. Buku yang berjudul “Me-Manajemen Hati Untuk Sebuah Kebahagiaan” kian memantapkan hatiku bahwa dia adalah sosok yang selama ini kucari. Hingga tak kusadari aku mulai ada rasa yang mulai tumbuh didalam hati.
Waktu terus bergulir, hingga kebahagianpun semakin mantap menuju pelaminan, dan hal ini sulit aku nalar dengan akal sehatku, betapa tuhan telah menggantinya dengan sosok yang bernama  Dini, dan kini aku hidup penuh bahagia bersama seorang anak dan istriku yang cantik jelita.   
*****
Hingga pada suatu sore hari saat aku dan keluarga kecilku sedang menikmati suasana santai sore hari di teras rumah sederhanaku, nampak seseorang turun dari becak yang dinaikinya, lalu menuju pintu gerbang halaman rumahku. Aku kian penasaran dan fikiranku kembali mengorek-orek memory yang telah tertutup oleh bunga-bunga kebahagian keluargaku. Siapakah gerangan wanita itu. Aku benar-benar amnesia saat itu dan memory ku tak mampu membongkar identitas wanita itu.
“Silahkan duduk mbak, mau bertemu dengan siapa ya ?” Tanya istriku dengan nada lembut.
“Betul ini rumah mas Zaenal ?”
“Betul, apa yang bisa kami bantu mbak ?” Tanya istriku lagi.
“Ini ada titipan dari seseorang” sembari mengeluarkan amplop dari dalam tas hitam yang dia kenakan, lalu wanita itu pergi dan hilang dibalik pagar. Aku sendiri kian bingung dan penuh tanda tanya besar di otakku. Apa pula yang dibawa wanita itu, dan meninggalkan sepucuk amplop tanpa meninggalkan identitas si empunya amplop tersebut. Ah, pikiranku kian kacau dan rancu. Apa gerangan yang hendak terjadi, dan apa pula isi amplop tersebut seakan penuh misteri. Amplop kubuka dan jantungku kian berdetak kencang, dan seketika kedua mataku tertuju pada selembar surat bertuliskan tangan.
“Aku pernah bahagia saat mengenalmu dulu, dan itu tak akan bisa lenyap dari hatiku paling dalam, dan terukir jelas di dasarnya. Namun aku tidak bisa menolak pilihan orang tuaku, meski aku tak mencintainya. Dan namamu masih rapat kusimpan di dalam hati. Kini aku tengah terkapar tak berdaya di rumah sakit karna ulah tangan besinya, hingga dia mendekam dibalik jeruji besi. Pada akhirnya aku harus mengalami gegar otak hingga kritis. Surat ini aku tulis sekuat tenaga setelah melewati masa-masa kritis. Dan untuk kali ini, aku ingin memandang wajahmu untuk terakhir kalinya, karena dokter momvonis umurku tidak lama lagi”.
Bagai petir disiang bolong, dan ingatanku mulai pulih dari amnesia panjang setelah selembar foto dibalik surat nampak begitu menyihir kedua mataku.
“Apa yang terjadi denganmu Gita…”
Hatiku kian bergejolak tak menentu setelah membaca sepucuk surat dari Gita. Apa aku harus bergegas ke rumah sakit atau aku tidak perlu menemuinya. Toh dia juga pernah membuat hatiku terluka. Ah, rasanya aku menjadi manusia yang paling tidak punya hati jika tak menemuinya.
“Ayo kita bergegas ke rumah sakit” ajak istriku tanpa pikir panjang.
*****
Bau obat farmasi dan anyir darah langsung menyambut saat kaki melangkah masuk RSUD Dr. Koesma Tuban. Orang-orang lalu lalang menjenguk keluarganya yang sakit. Para dokter dan perawat mondar-mandir dari satu ruang ke ruang lain. Aku mempercepat langkah bergegas menuju ruang kenanga tempat dia dirawat. Tiap ruangan tak lepas dari pandanganku, hingga langkahku terhenti oleh hospital bed  dengan seseorang tertutup kain putih yang keluar dari ruang kenanga.
“Dia telah kembali dipelukan-Nya” ucap dokter yang kutemui.
Hingga air mataku menetes untuk pertama kalinya. Dan aku belum bisa memenuhi permintaan terakhirmumu. Selamat jalan Gita, semoga kau bahagia disana.


Bangilan, 14 Februari 2017


Oleh : Kafabih

Dipenghujung akhir tahun 2016 tepatnya tanggal 29 desember, sebuah rencana yang telah tersusun rapi di pikiranku perlahan mulai kurealisasikan dalam bentuk perjalanan Ngetrip ke gunung lawu. Pagi itu segala persiapan telah siap semua, mulai dari tas ransel berisi pakaian secukupnya, jacket hitam, sarung tangan, masker hidung, helm dan tak lupa motor yang aku jadikan kendaraan sudah ready to go. Perjalanan kecil yang diharapkan bisa menjelajah ke semua sudut gunung lawu. Tepat pukul 07.30 WIB aku mulai perjalanan ini dari Bangilan, namun aku tidak sendiri kali ini, ada 2 orang rekan yang siap menemaniku dan sudah menanti di perempatan Senori. Dia adalah Luqman dari Jatirogo, dan Burhan dari Soko. Mereka berdua berboncengan dengan tas ransel di punggung.
Perjalanan pun dimulai dengan disambut medan jalan tanjakan yang lumayan tinggi. Serta hempasan angin dingin yang masih terasa sejuk di rongga dada, tak ketinggalan pancaran sinar kemerahan dari sang mentari mulai menyambut dan memberi energi pada perjalan kami. Putaran roda dan jarum speedo meter pada motor telah membawa kami berhenti pada sebuah warung pinggir jalan raya Bojonegoro Ngawi. Kami putuskan untuk istirahat sejenak sembari mengisi energi, karna dari rumah memeng belum sarapan.
“Bu, sarapan 2, teh hangat satu dan kopi hitam satu” pintaku pada ibu penjual.
Aku cuma pesan 2 sarapan saja, karena Luqman telah sarapan dari rumah sebelumnya. Namun ternyata si ibu pejual membawa 3 piring sarapan dari belakang. Yah daripada tak termakan terpaksa disantap juga sama Luqman, hingga dia kekenyangan. Tak lupa satu dua jepretan dari kamera ponsel aku abadikan moment itu.
“Istirahat cukup, perjalanan kita lanjut” seru Burhan



Sehabis isi BBM di POM, dan kota Ngawi pun telah berlalu dengan begitu saja tanpa ada moment yang berarti. GPS di tangan ku jadikan guru panutan mencari arah jalur yang benar, hingga akhirnya membawa kami ke arah Paron, Sine, Jamus. Jalur pun sudah mulai berkelok-kelok bagai ular tangga dan naik turun bak jungkitan. Hingga nampak pada kami plang arah menuju kebun teh Jamus. Tanpa pikir panjang kita ambil jalur tersebut yang terus naik ke puncak lawu dengan pemandangan hamparan kebun teh disisi jalan. Juga kami sempatkan merasakan dinginnya air mancur dan air terjun yang ada di area kebun teh. Jalur masih terus naik dan berkelok-kelok dengan hamparan kebun teh nan hijau dimata. Sesekali mata kamera ponsel tak lupa mengabadikan moment itu. Hingga puncak tertinggi kebun teh telah kita raih. Di area sekitar puncak kebun teh ternyata terdapat juga pabrik pengolahan teh peninggalan Belanda, gereja, musholla, dan makam orang belanda. Suasana sejuk dan aroma kembang untuk nyekar para peziarah pada salah satu makam sangat kental terasa, namun sayang aku tidak dapat info makam siapa gerangan.



Waktu sudah semakin siang, namun udara sejuk tetap menyelimuti, hingga perjalanan kami lanjut ke Karanganyar. Jalur yang ditempuh pun semakin ganas, namun suasana hijau kiri kanan dan pemandangan yang begitu memanjakan mata membuat perjalanan yang panjang itu tak terasa lelah sedikitpun. Sesekali aku berhenti sekedar untuk menikmati hamparan hijau kebun teh yg luas dan tentunya jepretan kamera ponsel yang tak boleh ketinggalan. Setelah perjalanan kurang lebih tujuh jam, akhirnya sampai juga pada persinggahan yaitu di tempat ibu bapak di Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar, yang terkenal akan buah duriannya. Sedikit rasa capek langsung hilang oleh teh hangat, juga sebagai pengusir rasa dingin khas pegunungan yang menusuk tulang. Hingga aku terlelap dalam tidur yang indah sembari mempersiapkan tenaga untuk petualangan esok hari.



Mentari pagi enggan keluar karena hujan yang lebat. Saat hujan telah reda, petualanganpun dilanjut ke waduk lalung yang berada di Kabupaten Sukoharjo. Waduk yang begitu luas dengan ketinggian tanggul sekitar 10 meter dari ruas jalan raya. Suasana asri dan sejuk begitu terasa ketika naik ke tanggul. Nampak para pemancing bergulat dengan kailnya untuk memperoleh ikan sebanyak-banyaknya.



Memasuki hari ketiga Ngetrip ke gunung lawu, perjalanan kami lanjut ke Astana Giri Bangun, yaitu komplek pemakaman keluarga mantan presiden RI ke dua, bapak Soeharto dan ibu Tien, serta keluarga. Lokasi yang berada paling tinggi setelah puncak gunung lawu. Ada tiga pos penjagaan untuk bisa masuk ke lokasi makam, pos pertama kita minta surat pengantar kunjungan, lalu di pos kedua tanda tangan dan meninggalkan KTP, lalu pos ke tiga kita dipanggil untuk ditanya apa tujuan ke Astana Giri Bangun ini.



“Bila ingin do’a singkat bisa saya langsung antar ke dalam ruangan, namun bila tahlil panjang mohon di luar ruangan utama saja” ucap bapak penjaga pos ke tiga.
“Dan juga, bila menginginkan foto bisa mengambil gambar di semua tempat, kecuali di dalam ruang utama, nah bila ingin foto di dalam kami sediakan fotografer” tandasnya
Begitu memasuki ruangan utama, aura kejawen begitu pekat terasa. Di ruang utama ada 4 makam, yaitu makam bapak Soeharto, ibu Tien Soeharto, serta makam ayah dan ibu bapak Soeharto. Kijing makam yang terbuat batu marmer putih dan cokelat dengan kwalitas terbaik begitu nampak mengkilat dan mewah. Foto-foto almarhum dan almarhumah terpampang di figura besar, serta beberapa lencana pangkat yang pernah di sandang bapak Soeharto tak lupa ikut di pajang. Nampak juga lencana logo TNI yang berukuran besar ikut dipajang, karena memeang bapak Soeharto adalah seorang Jenderal tertinggi pada masa Orde Lama.
Perjalanan belum berakhir, dan dilanjut naik terus hampir ke puncak lawu, yaitu di Tawangmangu. Sebuah kota di pucuk gunung lawu yang tak pernah lepas dari kabut tebal. Dan disana ada sebuah air terjun yang popular dengan sebutan grojogan sewu. Kesan pertama kita akan disambut oleh ratusan ekor kera liar yang hidup bebas disana.
“Memang air terjunnya ada seribu?” tanya Burhan.
“Meskipun jika di hitung tidak ada seribu grojogan, namun ya dinamakan grojogan sewu” jawab ku sambil menuruni anak tangga.



Ketinggian air terjun grojogan sewu mencapai 81 meter. Sehingga kita perlu turun beberapa puluh meter dengan menapaki ratusan anak tangga yang terbuat dari batu-batu gunung.
“Kakiku sudah gemetar rasanya, sudah gak kuat, ayo istirahat dulu disitu” ajak ku pada Burhan dan Luqman.
Tas ransel dan tas selempang yang penuh menjadi penyebab kakiku gemetar, ditambah medan menuruni ratusan anak tangga. Karena di setiap sudut ada tempat untuk istirahat, sehingga para pengunjung yang capek bisa istirahat sebentar dan bisa melanjutkan jika sudah tidak capek lagi.
Perjuangan yang berat menuruni anak tangga terbayar semua oleh keindahan air terjun grojogan sewu dan sejuknya suasana yang masih asri, disekeliling masih banyak tumbuh menjulang tinggi berbagai jenis pohon berumur ratusan tahun. Semakin mendekat dengan titik jatuhnya air terjun, semakin terasa hempasan bulir-bulir air yang terbawa angin. Rasa sejuk pun langsung terasa. Air yang mengalir di sela-sela bebatuan begitu bening dan dingin serasa es di kutub yang dapat mencairkan rasa lelah yang tadi sempat menggumpal. Dan petualangan di grojogan sewu kami akhiri dengan makan bareng di bawah naungan rindangnya pohon-pohon berusia ratusan tahun.
“Kemana lagi rute selanjutnya? Tanya Luqman
“Lanjut ke Telaga Sarangan” sahut ku.
Kunci kontak aku tancapkan, dan tombol stater motor pun aku tekan, gas di putar dan motor pun melaju dengan gagah berani menaiki puncak gunung lawu. Melewati jalan naik turun nan berliku. Medan yang ternyata lebih berat dari pada jalur waktu berangkat kemarin yang berada di sebelah utara gunung lawu. Namun sekarang motor ku melaju melewati sebelah selatan, dan hampir melewati puncak gunung lawu. Pemandangan kiri kanan pun berbeda dengan kemarin, kalau kemarin di dominasi oleh kebun teh, namun sekarang tidak. Sepanjang jalan ditumbuhi sayur-sayuran yang segar dan terlihat indah, seperti kubis, brokoli, kentang, wortel, strobery, dan lain-lain. Villa-villa dan rumah-rumah penduduk berjejer rapi di setiap sudut.
“Bak puncak yang ada di bogor” gumamku dalam hati.



Rambu penunjuk arah Telaga Sarangan pun telah nampak, motor pun kupaksa belok mengikutinya, yang sedari tadi ia enggan berlari kencang karena medan yang begitu berat. Terbayang sudah di kepala ku akan Speed boat yang ingin kunaiki, dengan ongkos sebesr 60 ribu rupiah kita bisa menikmati telaga sarangan dengan sekali putaran. Habis itu juga bisa menikmati hidangan dari para penjual sate yang tumbuh subur di sepanjang pinggir danau bak jamur di musim penghujan.
“Perjalanan Ngetrip ke gunung lawu kita akhiri disini ya kawan” tandasku.
“Kapan-kapan kita Ngetrip lagi ya” sahut Burhan.

Perjalanan pulang pun membawa segenggam oksigen penyambung hidup, dan oleh-oleh kebahagiaan serta persahabatan yang erat yang tertancap begitu dalam di rongga dada bersama alam gunung lawu.


Oleh : Kafabih

Tiiittt… tiiittt… breemm… breemm…
Bising ocehan klakson dan dentuman knalpot mengusik ketenangan telinga diantara gemericik hujan sore itu di sebuah perempatan jalan. Budi bocah ingusan terlihat merenung menanti nasib diantara tangisan mendung yang tanpa henti. Ia sandarkan tubuh mungilnya pada kokohnya tiang beton jalan tol seraya menahan rasa dingin yang menusuk tulang, serta hembusan angin yang membawa bulir-bulir air hujan. bertemankan setumpuk koran yang ia jajakan di depannya.
Ia memang tak seberuntung dengan anak-anak seusianya yang bebas bermain. Sedangkan ia harus merelakan masa-masa kecilnya di jalanan yang penuh dengan kebisingan, polusi, kekerasan, kesemerawutan jalanan ibu kota. Yang semestinya ia bisa menghabiskan masa kecilnya di dalam naungan rumah yang penuh dengan kebahagiaan dan kehangatan keluarga. Sayang, dia terlahir dari orang tua hanya seorang pemulung. Tempat tinggal yang seharusnya bisa menaungi dari segala apa yang ada, hanyalah gubuk reot beratapkan kokohnya jalan tol dan berdindingkan kardus-kardus bekas. Tempat ia beristirahat jika rasa lelah menghampiri, juga tempat berteduh dari rintikan air hujan dan sengatan panasnya sang mentari.
****  
Sore itu ia terlihat nampak lesu, karena seharian hujan turun tak henti-henti. Koran-koran yang ia jajakan sepi pembeli. Orang lalu lalang hanya meliriknay saja, atau sekedar memberikan senyum sinis. Tapi ia tetap bertahan dalam barisan jajaran koran yang ia susun rapi, sambil menanti ada orang yang mau membeli korannya.
“Koran koran koran…..”
“Korannya pak… buk…”
Dari segerombolan orang yang baru saja turun dari bus, nampak satu dari mereka sedikit tertarik dengan dagangan bocah tersebut, lalu menghampiri dan memilah-milih koran yng cocok denga seleranya. Dengan perasaan amat senang, ia melayani pembeli itu dengan tenang dan muka ceria, karena dari siang tadi belum ada satupun korannya yang terjual. Namun sayang, pembeli itu tampak tak menemukan koran yang cocok dengan seleranya, hingga berlalu dengan meninggalkan rasa kecewa yang nampak pada raut wajah Budi.
“Ah sudahlah… mungkin belum rejekinya” gerutunya di dalam hati
Waktu terus berjalan dan sudah hampir 3 jam si Budi menjajakan korannya, kurang lebih ada 5 koran yang laku terjual. Menjelang maghrib hujan pun seakan enggan berhenti dari tangisnya, si Budi nampak sedang sibuk menghitung beberapa lembar uang yang sudah nampak lusuh dan sedikit basah terkena air hujan.
“Alhamdulillah ya Allah”. Ucapnya seraya mengangkat kedua tangan lalu diusapkan ke wajah.
“Semoga cukup untuk tambahan biaya sekolah ku Ya Allah”
Dialah si Budi, bocah kecil yang punya semangat kerja keras yang membara meskipun harus berbasah-basahan oleh rintik hujan dan dingin yang menusuk tulang. Setiap hari selepas pulang sekolah dia selalu mengais rezeki di bawah kolong tol di suatu perempatan jalan. Ya, meskipun dia hidup bergelut dengan kemiskinan, ia tetap harus bisa duduk di bangku sekolah. Dia saat itu masih duduk di bangku kelas 5 sebuah Sekolah Dasar dekat dengan rumah reotnya.
***

Selepas isya’ ia pulang dengan membawa beberapa lembar uang dan sisa korannya. Ia tapaki jalan berkerikil di sepanjang rel kereta api dibawah naungan cahaya merah lampu kota. Setengah jam ia habiskan untuk pulang dengan jalan kaki. Sesampai di rumah ia tak lupa mempersiapkan buku-buku untuk esok hari dan mengerjakan PR meski dengan mata sayup-sayup dan badan capek. Hingga seringkali ia tidur berselimut buku-buku yang masih berserakan di dipan tempat ia belajar. Hingga kokok ayam yang membangunkannya dari mimpi indah semalam. Mimpi yang selalu menghantui setiap kali malam datang. Ya, mimpi menjadi seorang pengajar anak jalanan dan mendirikan sebuah taman belajar untuk anak jalanan. Selaras dengan cita-citanya yang selama ini memenuhi otaknya. Demi meningkatkan kwalitas pendidikan anak-anak jalanan demi menyongsong era globalisasi. Cita-cita yang begitu sederhana namun sangat mulia dari seorang anak jalanan seperti Budi. Dan keadaan Budi saat ini sangat bertolak belakang dengan UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yang berbunyi bahwa “gepeng dan anak - anak jalanan dipelihara atau diberdayakan oleh Negara yang dilaksanakan oleh pemerintah”. Namun kita patut bersyukur masih ada sekelumit dari anak bangsa yang prihatin dan iba melihat generasi bangsa yang jauh dari cita-cita bangsa. Dengan mendirikan taman belajar untuk anak-anak jalanan meskipun tanpa sokongan dana dari pemerintah. Semoga cita-cita bangsa kita dapat terlaksana.

Oleh : Kafabih

Rintik hujan masih enggan meninggalkan peraduannya dipagi hari. Udara dingin masih terasa menusuk tulang tengkukku, serta bulu kudukku serasa berdiri dan pori-pori kulitku membesar karena kedinginan. Namun aku masih setia duduk di balkon rumah dengan sepucuk surat yang kuterima dari seseorang yang bersepeda dan berseragam oren hari kamis kemarin. Ya, sepucuk surat dari ibu yang memberi kabar kepada ku dan adikku tentang rencana kepulangannya pada minggu depan. Karena sudah 5 tahun aku tidak bertemu dengannya, semenjak kepergian ayah untuk selamanya karena sakit. Ibu sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi TKW di negeri orang. Waktu yang tidak sebentar untuk melepas rindu, keluh kesah dan curhat ku kepada ibu. Keadaan yang cukup berat ini belum bisa menggoyahkan hati ku untuk bisa menerima tawaran ibu tentang sosok pria pengganti ayah. Terkadang hati ini juga merasa kasihan dengan keadaan ibu yang bekerja keras membanting tulang sekedar untuk biaya sekolah, dan biaya hidup aku dan adikku. Ditambah dengan jarak yang begitu jauh dan tersekat oleh lautan yang luas.
Tiba-tiba aku terbangun dari lamunanku ketika adikku minta uang jajan.
“Mbak minta uang jajan dong” rengek adikku.
“Trus ibu pulangnya kapan mbak? kok lama belum sampai rumah?”
“Ya ditunggu aja lah dik, nanti juga sampai rumah” jawab ku sambil memberikan uang dua ribuan.
Hari ini aku tidak berangkat sekolah, karena hari libur. Yang biasanya sudah sibuk membuatkan sarapan untukku sendiri dan adikku, lantas persiapan pergi sekolah bersama, dengan sepedah ontel yang keranjangnya mulai berkarat dan berlobang, serta suara kayuhan sepeda yang setia menemaniku. Ku kayuh sepeda bututku melintasi jalanan setapak yang sejajar disisi rel kereta api. Serta menerobos rimbunan ilalang yang tumbuh liar disepanjang aliran kali kening, serta iringan gemericik air kali yang menemani perjalannanku tiap hari. 30 menit waktu yang kubutuhkan untuk sampai di SMA di kota ini. Sedang SDN tempat adikku belajar tidak jauh dari sekolahku. Kami selalu berangkat dan pulang bersama.
*******
Pada hari senin sore, aku sedang santai sendirian menonton televisi hitam putih yang merupakan satu-satunya benda berharga di rumah ini. Aku terkejut dengan berita tenggelamnya KM. Kuala Sentosa, sebuah kapal yang mengangkut penumpang dari Malaysia ke pelabuhan tanjung mas Semarang. Kabar terakhir belum diketahui jumlah korban meninggal dan selamat. Hati ku semakin tidak nyaman dengan ini, semoga saja tidak ada apa-apa dengan ibu, pikirku. Tetapi hati ku masih menduga-duga dan rasa penasaran yang dalam. Ku ambil kembali surat dari ibu yang kusimpan rapi di dalam buku diary ku, lalu kubaca lagi dengan cermat. Dan benar saja berita yang kulihat itu adalah kapal yang ditumpangi ibu. Karena ibu menulis lengkap rencana pejalanan pulang, mulai jam, tanggal dan kapal yang akan ditumpangi ibu. Seketika hatiku serasa hancur berkeping-keping bagai gelas yang jatuh dari meja. Air mata tak mampu lagi ku bendung, dan tangispun pecah diatara dinding kayu yang mulai lapuk. Spontan mak bibit yang bersebelahan dengan rumah ku kaget dan langsung menemui dan menenangkanku.
“Ada apa nduk kok tiba-tiba nangis?” Tanya mak bibit kepada ku.
Mak bibit adalah sosok pengganti ibu yang sangat sayang dan perhatian kepadaku dan adikku.
 “La adikmu kemana?”
“Tadi pergi bermain mak” jawabku sambil sesenggukan.
“La kenapa kamu kok tiba-tiba nangis begini?”
“Sudah jangan cemas dulu, sapa tau itu bukan kapal yang ditumpangi ibu mu” jawab mak bibit, setelah kujelaskan tentang berita tadi.
Dua hari sejak berita itu muncul di televisi, hati ku masih tidak karu-karuan dan sangat cemas. Tiap saat aku terpaku melihat detak jam dinding di ruang tamu yang mulai pudar angkanya. Kapan ibu sampai rumah, sambil mengharap-harap cemas tak berkesudahan, serasa hatiku menggantung tak jelas, rasa cemas bercampur gelisah kian mendera batin.
*******
Lima hari berlalu sejak berita itu, keadaan tetap seperti kemarin, tak ada kabar atau berita yang melegakan hati ini ataupun kabar bahagia yang kudapat. Yang ada hanya tetesan air mata dan tatapan layu pada sebua foto ibu ku yang sudah kusam. Karena memang di desa ku alat komunikasi masih sangat sulit sekali, jarang-jarang orang yang punya telepon genggam. Sesekali aku buka lagi sepucuk surat dari ibu sambil berbaring di kursi panjang ruang tamu. Dan lamunan ku pun mulai muncul, apa benar ibu memang benar-benar telah tenggelam bersama dengan kapal yang ibu tumpangi dan pergi untuk selamanya. Lamunan ku kian menjadi-jadi, hingga akhirnya dibuyarkan oleh suara ramai diluar rumah. Ku tengok dari sudut jendela tanpa kaca, nampak sebuah mobil putih lengkap dengan tulisan dan lampu sirene. Seketika aku menjerit keras dan menangis meraung-raung, dan menendang –nendang meja di depanku, hingga tak terasa foto ibu yang masih kupegang lengkap dengan framenya, ku lempar hingga pecah berkeping-keping. Sontak mak bibit yang sedari tadi berada di dapur untuk membuatkan menu makan untukku lekas menghampiriku.
“Ibu sudah meninggal mak”
“Ngomong apa kamu ini nduk” sahut mak bibit
“Itu di depan rumah ada mobil ambulan mak” jawab ku sambil sesenggukan tak henti.
Mak bibit pun melangkah kedepan dan mengintip dari balik jendela mobil dengan penuh tanya dan harap-harap cemas, siapakah sebenarnya yang ada di dalam mobil ini.
“Ya Allah… kamu to Marni, alhamdilillah kamu baik-baik saja”
Mendengar ucapan mak bibit seketika aku lari dan memeluk ibu yang masih terpasang infus di tangan kirinya. Bayang-bayang ibu selama ini telah terpatahkan dengan hadirnya sosok ibu dihadapan ku. Dan kuhapus semua rasa cemas yang selama ini menghantui batin ku. Hatiku kembali hidup, fikiran ku tenang dan kubuang jauh-jauh rasa sesak di dada.
*******
Sudah dua hari ini ibu tinggal di rumah, dan aku juga belum mengetahui kejadian yang menimpa ibu. Saat aku, ibu dan adikku berada pada ranjang yang sama pada malam yang mulai turun hujan. Dengan nada rendah kuberanikan diri untuk bertanya tentang hal itu. Dan ibu pun mulai menceritakan kejadian sebenarnya.
“Bagini nak” ibu mulai bercerita.
Saat itu sedang ada badai dan gelombang tinggi di lautan, hingga kapal yang ibu tumpangi pecah dan tenggelam. Hingga akhirnya ibu ikut tenggelam, namun ibu berusaha berjuang melawan kuatnya gelombang dan ganasnya lautan. Ibu bisa selamat dari tenggelamnya KM. Kuala Sentosa yang ternyata banyak memakan korban, dengan sebuah jerigen bekas yang mengapung di dekat ibu serta kepandaian berenang yang ibu peroleh dari mandi tiap hari di kali kening. Tiga hari tiga malam, ibu terapung bagai seonggok sampah plastik yang jauh dari segala arah. Waktu yang lama untuk seorang ibu untuk mengapung dilautan lepas. Sekujur tubuh serasa mati, kulit mulai mengelupas, tenggorokan serasa terbakar dan perut kosong karna tidak terisi makanan. Tenaga semakin habis, mata berkunang-kunang, dalam hati ibu tetap yakin ada pertolongan yang akan datang kepada ibu. Benar saja, dari kejauhan nampak Tim SAR sedang mencari korban. Ia lambaikan tangan keatas dengan sisa-sisa tenaga yang ada dan memanggil-manggil dengan suara yang mulai habis, hingga akhirnya Tim SAR pun dapat menemukan ibu.
Hingga tak terasa aku pun terlelap dalam dekapan kehangatan kasih sayang seorang ibu yang aku cintai.
*****

 Penulis juga anggota di Komunitas Kali Kening

Oleh : Kafabih

Pertempuran yang sengit masih terjadi dibalik bukit pada pagi buta menjelang subuh. Suara rentetan senjata dan dentuman meriam terasa menggetarkan dada, menggugah jiwa-jiwa kesatria pahlawan bangsa untuk segera menenteng senjata dan bertempur hingga tetes darah penghabisan. Masih dalam suasana malam yang gelap gulita disertai rintik hujan yang turun sejak tengah malam, Jarwo keluar rumah sesaat setelah dia melaksanakan sholat subuh. Sembari menenteng senapan Arisaka Rifle ditangannya dan shal merah putih yang terikat dikepalanya. Dengan semangat berkobar dia tinggalkan ibu dan adik-adinya dirumah menuju medan pertempuran melawan penjajah bangsa.
“Dayat ayo kita berangkat” ajak Jarwo.
“Apakah kamu sudah siap dengan tugas berat ini ?” Tanya Dayat kepada Jarwo.
“Demi Tanah Air dan Bangsa Indonesia, aku rela berkorban walaupun nyawa yang jadi taruhannya” jawab Jarwo menggebu-gebu.
“Dan pertempuran kali ini juga untuk membalaskan dendam ku yang terpendam semenjak kematian bapak ku oleh peluru kompeni biadab tersebut”
Setelah berjalan sekitar 30 menit, mereka berdua sampai di markas Laskar Ronggolawe yang tidak jauh dari rumahnya. Disana komandan Laskar Ronggolawe memberikan instruksi kepada pasukannya, bahwa kita akan menyusul dan ikut bergabung dengan pasukan yang telah lebih dahulu berangkat. Tetapi sebelum sampai tempat tujuan, kita akan melakukan serangan fajar terhadap truck kompeni pembawa senjata yang akan melewati jalur di jembatan kali kening.
“Semua siap ?”
“Siap”
“Merdeka !!!” “Merdeka !!!”
Jarwo dan rombongan berjalan menyusuri pinggir rel kereta api dan pematang sawah di pinggiran desa, menerobos gelapnya malam dan membelah disela-sela rintik hujan yang tak kunjung berhenti. Selama perjalanan menuju titik yang telah ditentukan komandan, pikiran Jarwo semakin kacau dan sesak oleh dendam yang telah membara di dalam dadanya. Ia berjanji akan membalaskan dendam atas kematian bapaknya ketika kompeni mengobrak-abrik seisi rumah dan menembak bapaknya tepat di depan mata Jarwo. Dan ingatan itu masih segar menghantuai pikiran Jarwo.
*****
Sesaat setelah sampai di titik pencegatan serangan fajar, Jarwo dan pasukan lain menyebar menentukan posisi pengintaian. Jarwo sendiri berada di utara jembatan. Setelah sekian lama menunggu, dari kejauhan nampak sorotan lampu disela-sela gerimis dan diantara fajar yang mulai nampak kemerahan, serta raungan mesin truck kompeni pembawa senjata mulai mendekat. Jarwo pun mengendap-endap dibalik rerumputan ilalang yang tumbuh liar disekitar kali kening. Dengan senapan Arisaka Rifle siap ditangan, Jarwo pun serasa ta sabar menarik pelatuk senapan dan memuntahkan pelurunya tepat di jantung kompeni biadab tersebut.
“Sebelum ada perintah menembak, jangan ada yang mendahului menembak” instruksi dari komandan.
“Dan kamu Jarwo, jangan bertindak gegabah dan membabi buta, itu bisa mencelakakan diri mu sendiri” ucap Dayat dengan nada pelan.
“Ini saat yang tepat untuk membalaskan dendam ku dayat” ucap Jarwo.
Putaran roda semakin dekat dan nampak jelas disela-sela rumput ilalang, hanya berjarak sekitar 20 meter dari tempat pengintaiain, detak jantung Jarwo pun semakin kencang bagai derap langkah kaki kuda di medan perang. Sesaat setelah truck melintas tepat diatas jembatan kali kening.
“Tembaaaaakk!!!!!!” Teriak komandan.
Seketika suara hening dan gemericik aliran air kali kening berubah menjadi medan pertempuran yang sengit. Peluru-peluru melesat memberondong truck tersebut, bagai hujan meteor dari langit. Tembakan-tembakan dari Pasukan Laskar Ronggolawe yang tersebar di utara dan selatan jembatan terus memberondong truck tersebut. Tembakan balasan dari kompeni pun kian membabi buta. Puluhan bahkan ratusan butir peluru telah dimuntahkan dari senapan Arisaka Rifle yang ditenteng Jarwo. Hingga serangan fajar ini pun berhasil dengan tewasnya 4 tentara kompeni Belanda.
“Cepat segera kumpulkan senjata-senjata yang ada di dalam truck itu” perintah komandan kepada Jarwo.
Jarwo pun segera ke dalam truck dan mengumpulkan beberapa pucuk senjata, peluru dan granat yang bisa digunakan untuk memperkuat persenjataan mereka.
Tanpa disadari dari belakang ternyata ada 2 mobil jeep kompeni yang terpisah dengan truck pembawa senjata. Peluru-peluru pun mulai ditembakkan ke arah Jarwo. Dayat pun meneriaki Jarwo supaya cepat turun dari truck dan lari kearah kali kening.
“Jarwo ayo cepat turun!! Dibelakang mu ada tentara kompeni dengan 2 mobil jeep”
“Ayo Jarwo cepat turun!!” teriak Dayat berkali-kali.
Berondong tembakan kompeni mengarah kepada Jarwo yang masih sempat mengambil sepucuk meriam dan 2 bom granat. Selongsong peluru pun bersarang  tepat di kakinya sebelah kiri, hingga kahirnya Jarwo pun ambruk dengan kaki berlumuran darah, dan berusaha bangkit lagi dengan sisa kekuatan yang ada. Sembari merayap berlindung dibalik truck yang mulai terbakar. Ditentengnya meriam dengan penuh dendam, membalaskan dendam bertahun-tahun yang menyesakkan dada. Ditariknya pelatuk dengan wajah buas dan beringas.
“Rasakan pembalasanku ini keparaaatt!!!!” teriak Jarwo.
Ratusan peluru dimuntahkan dari meriam yang ditenteng Jarwo dengan sisa kekuatan yang ada. Satu dua orang tentara kompeni mulai berjatuhan berlumuran darah tertembus timah panas. Dan dua buah granat yang dilempar Jarwo tepat jatuh di dalam mobil jeep. Dan tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras memekakkan telinga hingga api membumbung tinggi di angkasa dengan asap hitam pekat serta bau mesiu yang menyengat hidung. Pada akhirnya hancurlah mobil jeep tersebut, dan memanggang bersama 5 orang penumpangnya.
“Mati kau kompeni biadab bagai daging panggang” ucap Jarwo.
Dia pun berjalan sambil terseok-seok menuju pinggir jembatan dan berpegangan pada besi-besi tua jembatan yang berkarat sambil menghela nafas dalam. Dendam ku telah terbalaskan untuk mendiang bapak ku, ucap Jarwo dalam hati. Lalu Jarwo memanggil Dayat dan teman-temannya yang tengah bersembunyi dibalik bongkahan batu kali kening dan dalamnya kedung.
“Merdeka!!  Merdeka!!”
“Kompeni biadab telah terpanggang semua bersama mobil mereka” teriak Jarwo.
Dayat serta pasukan yang lain mulai menampakkan batang hidungnya dari persembunyian. Namun naas, tanpa disadari Jarwo ternyata masih ada satu tentara kompeni di mobil jeep kedua yang masih hidup. Kompeni itu pun memberondong Jarwo dengan puluhan timah panas, hingga akhirnya tubuh Jarwo bersimbah darah lalu terkapar, namun dia masih sempat menarik pelatuk meriamnya, namun kalah cepat dengan granat yang dilemparkan kompeni tepat kearah Jarwo, dan  granat meledak dengan dahsyatnya. Jarwo pun tewas bersama dengan runtuhnya jembatan kali kening.


Penulis juga anggota  di Komunitas Kali Kening


Sehabis sholat subuh kurebahkan badanku seraya menunggu datangnya sang surya dengan berbaring malas-malasan di atas kasur yang sudah terasa mengeras serasa batu. Kutatap langit-langit kamar ku yang mulai dihiasi dengan sawang disana-sini. Tiba-tiba Hp berbunyi mengusik lamunan ku tentang dia. Ternyata seseorang yang kulamun dan kurindu kala itu yang menelfon ku. Bergegas ku angkat telefon lalu kujawab.
“Wa’alaikum salam”.
“Alhamdulillah kabar sehat bu”
Sudah beberapa bulan ini aku tidak bisa bertemu dengan ibu ku semenjak kejadian itu. Kejadian yang membuat ku sangat shock dan terus membuat fikiran ku menjadi stress. Itu pula yang membuat ibu dan bapak pergi jauh dari rumah. Akan tetapi, semenjak kejadian itu yang membuat ibu dan bapak ku pergi jauh meninggalkan rumah, aku malah merasa lega dan sedikit agak tenang. Karena apa yang diharapkan oleh ibu telah terkabulkan, meskipun dengan cara yang membuat hati ku sedih. Sedikit masalah dengan rumah sebelah yang membuat pertengkaran, sehingga hidup di rumah itu serasa dalam penjara.
“Istrimu dimana ?”
“Ni disamping ku bu” jawabku.
“Kabarnya gimana ?”
“Masih sering muntah dan kadang pusing juga bu” jawabku.
“Ya… yang sabar dulu kamu, itu hal yang wajar kok”
Saat itu istriku sedang hamil 2 bulan, saat-saat berat bagi para ibu yang sedang mengandung. Karena perut terasa mual sepanjang waktu, hingga bau masakanpun akan muntah. Ibu sering menenangkan ku dengan suara lembutnya. Kata ibu orang hamil itu ya seperti itu, sering muntah dan pusing, gak mau makan, tiap makan satu sendok dua sendok muntah.
Rasa kangen ku yang belum terobati seakan memuncak pada lebaran idul adha kemarin, karena pada idul fitri yang lalu juga tidak bisa silaturrohmi dengan ibu bapak disana. Tetapi rencana yang telah kupersiapkan jauh hari sebelumnya ternyata gagal. Itu karena kabar bahagia yang kudapat bahwa istri ku telah positif hamil. Sehingga aku tidak berani memaksa kehendak ku untuk pergi menjenguk ibu jauh disana. Karena takut ada apa-apa dengan kandungannya saat diperjalanan.
“Ya sudah gak bisa jenguk ibu bulan ini gak apa-apa, ibu aka selalu mendoakan kamu dari sini. Untuk rencana jenguk ibu di tunda dulu sampai ada waktu yang tepat, atau nunggu waktu habis lahiran aja sekalian gimana?”
Aku sedikit bingung untuk menjawab, karena rasa kangen ku yang sangat dalam.
“Ya sudah bu nanti ku fiirkan lagi bersama istri ku”.
Tujuh bulan sudah waktu terlewati dengan amat cepat, dengan memikul rasa kangen yang tiada tara. Karena semenjak kandungan istriku berumur dua bulan hingga sembilan bulan rencana ku untuk melepas rasa kangen tak tersampaikan.
Namun rasa kangen ku pada ibu seketika diganti dengan rasa senang dan bahagia yang tiada tara. Karena tepat pada usia kandungan istriku yang menginjak sembilan bulan, lahirlah putra pertama ku dengan selamat. Tak sabar rasanya aku sampaikan kabar bahagia ini kepada ibu yang juga menanti-nanti kelahiran cucunya.
“Hallo… Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam”
“Ibu… istriku sudah melahirkan bu…”
“Alhamdulillah…”
“Laki-laki apa perempuan ?” Tanya ibu padaku.
“Laki-laki bu”
“Ya sudah, besuk juga ibu akan kesana jenguk cucu”
“Benarkah bu ?” Tanyaku.
“Insya Allah iya”
Alhamdulillah jawab ku dengan perasaan senang, karena ibu akan datang ke rumah ku. Aku termenung sejenak seraya berangan-angan, bahwa kesabaran itu pada akhirnya membawa kebahagian yang lebih. Seperti yang ku alami saat ini. Kelahiran seorang putra dan rencana kedatangan ibu yang selalu mengisi ruang hati ku.


Pesan Moral :
* Sabar itu berat tetapi pasti ada bahagia pada akhirnya
* Hidup itu penuh masalah, maka hadapilah dengan sabar dan tawakkal

* Orang yang harus kita hormati pertama kali adalah Ibu 


Teng… teng… teng…
Bunyi lonceng tanda jam pelajaran telah selesai dan tiba waktunya istirahat. Ya, suara lonceng, karena sekolah ku saat itu belum mempunyai bel listrik seperti jaman sekarang. Semua siswa keluar dari kelasnya masing-masing. Ada yang menuju perpustakaan, sekedar duduk-duduk di beranda kelas dan juga ke kantin.
“Ad, ayo ke kantin”
Ajak ku kepada seorang teman akrabku yang bernama Fuad. Dia anak yang sedikit pendek tetapi badannya agak gendut. Meskipun demikan dia anak yang enak diajak ngobrol, terkadang ada lelucon-lelucon yang sering dia perbuat hingga aku tertawa terpingkal-pingkal.
“Ayo kalo gitu, kebetulan tenggorokkan ku lagi kering nich” sahut Fuad.
Lalu kami berdua menuju ke kantin yang berada agak jauh dari kelas IX-B, ya itu kelas ku. Saat itu aku hampir menyelesaikan sekolah tingkat pertama, tinggal satu bulan lagi menghadapi Ujian Nasional yang begitu menghantui fikiran aku saat itu.
“Ad, katanya tenggorokan mu kering? Kok gak pesen minuman sama Bu Atik”
“Kamu aja yang pesan deh…, aku sudah terlanjur duduk nyaman nih…”. Sahutnya.
“Aku juga udah terlanjur duduk juga nih…”
“Ya udah lah aku aja yang pesan minuman”
Aku menuju ruang kantin menemui Bu Atik penjaga kantin sekolah. Dia sudah sangat lama menjadi penunggu kantin, semenjak aku baru masuk sekolah ini beliau sudah ada lebih dulu. Beliau juga punya anak perempuan yang sekolah disini tetapi baru kelas VII. Keakrabanku dengan Bu Atik seperti ibu kandungku sendiri, karena beliau orangnya sabar, ramah dan suka meneasehati apabila aku sedang malas belajar.
“Bu… Bu… Bu Atik…” Panggilku.
“Iya…” Jawabnya dari ruang belakang.
“Tunggu bentar ya, ibu lagi nggoreng bakwan jagung”
“Iya Bu…”
Setelah satu gorengan selesai diangkatnya lalu Bu Atik menuju ke depan, sambil berucap di benaknya siapa ya tadi yang memanggilku?
“Oooo… kamu to Din, mau pesan apa sama ibu?”
“Nanti ibu buatin yang spesial untuk mu”
“Ah ibu ini selalu begitu…”
“Aku cuma pesen es teh aja kok bu”
“Kalo aku pesen es jus manga 2 gelas bu” Sahut Fuad sambil senyam-senyum.
“Loh, kok banyak amat pesan mu Ad…? Emang muat tu perut…?”
“Dah bu buati satu aja ya buat Fuad” Pinta ku kepada Bu Atik.
Disela Bu Atik membuatkan pesanan untuk kami berdua, kami menunggu di bangku yang ada di depan kantin yang nampak sudah usang dimakan waktu sembari ngobrol hal-hal kecil.
“Din, kapan kau ajak main ke rumah mu?” Tanya Fuad kepada ku.
Saat itu memang aku belum pernah mengajak tema-teman ku main ke rumah ku sendiri. Dan itu terkadang membuat ku agak sedih karena tak satupun dari teman ku yang main ke rumah ku. Karena aku bukan anak asli daerah sekitar sekolah atau desa tersebut, akan tetapi aku adalah anak rantau yang selalu berpindah-pindah sekolah mulai Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Disana aku ikut dengan Paman, apa pun yang kulakukan seperti tidur, makan, mandi dan apapun lainnya di rumah Paman. Terkadang hati ini merasa sedih bercampur kangen kepada orang tua yang jauh di sana, di Tuban Jawa Timur tepatnya di kota kecil yang dahulu masih sangat sepi. Ya, di sanalah kampung halaman ku tercinta, di sepanjang aliran Kali Kening tempat ke dua orang tua ku tinggal. Meskipun demikian aliran arus Kali Kening bukan menjadi saksi kelahiran ku dulu, sebab aku terlahir di tanah Borneo. Oleh sebab itu aku dijuluki anak rantau.
“Kapan ya Ad, aku juga bingung cari waktu yang tepat untuk main ke rumah ku”.
“Emmm…. Oiya… Apa besuk saja setelah kita habis ujian?”
“Nah… itu cocok Din, waktu yang tepat untuk melepas segala beban fikiran setelah ujian kita nanti, Bukan begitu ?”
“Ide cemerlang kawan…. Kita bisa bermain di sepanjang aliran Kali Kening yang bening hingga nampak ikan-ikan dari atas yang membuat kita jadi pengen berenang bebas menyelami dalamnya Kali Kening”.
“Wah aku sudah tidak sabar lagi menunggu…” Sahut Fuad.
“Dan satu lagi… nanti kalo kita belum puas berenang, bisa slorodan di Sambong”.
“Sambong itu apa din?’ Tanya Fuad.
“Bendungan air peninggalan Kolonial Belanda yang fungsinya untuk irigasi mengairi sawah-sawah yang ada di bawah Kali Kening”.
“Wah….. kayaknya seru tu….”
“Makin gak sabar aku”
Setelah beberapa waktu berlalu dengan percakapan yang seru itu, Bu Atik muncul dengan membawa es teh dan jus mangga pesanan aku dan temanku Fuad.
“Kok lama banget bu pesanannya” Tanya Fuad.
“Tadi kehabisan es batu Ad, jadi ibu cari keluar dulu, maaf ya…”
“Ah… gak papa bu, lagian kami gk terasa lama kok nunggunya” sahutku.
“Emangnya kalian tadi ngobrol apa aja ?”
“Waw…. Seru pokoknya bu” kata Fuad.
“Liburan nanti aku mau di ajak main ke rumahnya Udin bu… disana bisa berenang di sungai, lorodan di sambong… ah… pokoknya banyak bu”.
“Ibu kok jadi pengen ikut juga Din, sekalian biar kenal sama orang tua mu”
Saking serunya percakapan Antara Aku, Fuad dan Bu Atik tak terasa lonceng berbunyi tanda jam istirahat telah usia saatnya masuk kelas untuk menerima pelajaran dari Bapak/Ibu guru.
“Ayo Ad, kita ke kelas, lonceng sudah berbunyi”
“Ayo…”
“Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya Bu”
“Iya… Sono cepetan masuk kelas, ntar telat lo”.
Aku bergegas masuk ke kelas, setelah Aku membayar minuman yang tadi aku minum bersama Fuad di kantin sekolah. Pelajaran pun berjalan sampai waktu pulang sekolah tiba.
***
Keesokan harinya Aku berangkat sekolah seperti biasanya. Sebelum sampai di depan pintu gerbang sekolah aku bertemu dengan Bu Atik sembari membawa tas belanja hendak pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan kantin.
“Din nanti jam istirahat jangan lupa ke kantin ya?”
“Ada apa bu…? ” Tanya ku.
“Ibu mau ngomong bentar dengan mu”
“Tentang apa Bu..?”
“Ah… udah, pokoknya nanti ke kantin, sekalian ajakin teman akrab mu si Fuad”.
“Iya Bu…” Jawab ku dengan perasaan bertanya-tanya. Apa yang hendak di omongkan dengan kun nanti ya?? Apa aku ada salah atau aku ….. ah… sudahlah nanti akan tahu sendiri. Gerutu ku  dalam benak. Sembari Bu Atik melangkah pergi ke pasar yang tidak jauh dari sekolah.
Teng… teng… teng…
Bunyi lonceng waktu istirahat telah tiba. Aku bergegas keluar mendahului teman-teman lain seraya nggelandang Fuad untuk ku ajak ke kantin. Dalam benakku masih tersimpan rasa penasaran yang dalam apa gerangan yang akan di omongkan Bu Atik nanti. Masih dengan nafas ngos-ngosan sehabis berlari dari kelas ke kantin.
“Bu…Bu… Bu Atik…”
“Tadi mau ngomong apa ibu pas ketemu di pintu gerbang?’ Tanya ku penuh cemas.
“Oo… gini Din Ibu kepingin ikut kerumah mu boleh nggak?”
“Kerumah ku Bu…??” “Serius Bu…??” “Kapan Bu…”
“Itu kalo boleh Din”
“Ya tentu sangat boleh Bu”
Dan perasaan ku lega dan plong setelah mendengar ucapan Bu Atik, semua perkiraan aku akan dimarahi ternyata meleset, bahkan dapat kabar yang sangat gembira. Ya, sangat gembira, orang yang sangat dekan dengan ku bahkan seperti menjadi Ibu kedua ku akan ikut berkunjung ke rumah ku. Dan tak ketinggalan teman akrab ku juga ikut setelah mendapat izin dari orang tuanya.
***
Hari-hari berlalu, minggu demi minggu terlewati. Ujian Nasional pun telah dilewati dengan lancar tanpa ada kendala berarti dalam mengerjakan soal-soal tersebut, itu juga berkat nasehat-nasehat yang sering ku dengar dari Bu Atik untuk tidak malas belajar dan tentunya berdoa kepada Allah SWT supaya diberi kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan soal-soal Ujian Nasional.
Saat pengumuman kelulusan pun tiba. Semua siswa kelas IX termasuk aku harap-harap cemas dengan wajah penuh tanya, apa yang hendak diterima dalam lipatan kertas di dalam sebuah amplop kecil apakah tulisan LULUS atau pun TIDAK LULUS. Dan tiba giliran ku menerima amplop keramat itu dengan tangan terasa kaku lagi berat. Saat semua telah mendapatkan amplop keramat itu, tiba saatnya untuk membuka secara bersama-sama. Dan seketika suasana hening dan tegang pecah bagai bom waktu yang meledak. Tangis tawa sedih gembira jadi satu di dalam ruangan yang lebar itu, sebuah aula sekolah yang penuh kenangan di dalamnya. Ku pejamkan mata dan ku buka amplop keramat itu dengan tangan gemetar. Ku buka mata pelan-pelan dan ku lihat dalam sepotong kertas kecil bertuliskan LULUS. Spontan aku mengucapkan Alhamdulillah rasa syukur ku kepada Allah. Dan kegembiraan ku di ikuti juga oleh teman akrab ku Fuad, dia juga lulus Ujian Nasional dan siap melanjutkan ke jenjang pendidikan atas.
***
Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, kami bertiga berangkat dengan naik Bus menuju kampung tercinta, kampung halaman. Keseruan tetap terjadi dan hal-hal menyenangkan terus berjalan seiring putaran roda bus yang membawa kami ke tujuan. Kabar gembira tentang kelulusan dan kepulangan ku bersama teman ku Fuad beserta Bu Atik belum terdengar oleh orang tua ku di sana, karena saat itu alat komunikasi masih sangat sulit. Bus berhenti tepat di depan rumah ku, nampak dari kejauhan raut wajah orang tua ku bertanya-tanya, siapa gerangan yang turun dari bus itu??. Saat kaki kiri ku turun dari bus dan menapakkan ke tanah, terdengar oleh ku.
“Ya Allah…. Anak ku muleh…..”
“Bah…. iki lo anak mu muleh”. Ucap mak ku kepada bapak ku. Panggilan yang biasa ku ucapkan juga.
“Budale jam piro mau ko kono?”
“La iki konco mu to Din?”
“La sing iki sopo?”
“Yawes podo mlebu omah disik kono”.
Beberapa pertanyaan yang terus keluar dari bibir ibu ku karena betapa saking senangnya anaknya yang ke tiga telah pulang dan telah lulus. Kami pun ngobrol bareng hingga tak terasa sudah jam 22.15 WIB, saatnya besuk pagi meluapkan kegembiraan pada Kali Kening.
***
Waktu liburan telah usai dan saatnya Fuad dan Bu Atik kembali pulang. Akan tetapi mereka berdua menjadi sedih karena niat ku untuk tidak kembali lagi ke rumah Paman, aku lebih memilih melanjutkan sekolah di Desa ku sendiri dan bermain bersama Kali Kening.